0

Wajah Budaya Nasional di Museum Ronggowarsito

File PDF: WAJAH BUDAYA NASIONAL DI MUSEUM RONGGOWARSITO 1

 

Museum Ronggowarsito adalah musium yang terletak di jawa tengah. Tepatnya di jalan Abdulrachman saleh-semarang. Selain sebagai tempat yang memiliki fungsi untuk mengumpulkan, merawat, dan menyimpan banyak warisan budaya, sebagai media hiburan, museum ini juga ditujukan sebagai media kajian ilmu dan penelitian. Museum Ronggowarsito menyimpan banyak koleksi sejarah. Diantaranya: Foto, Patung, Alat-alat purbakala, replika sejarah dan sebagainya.

Gedung A Lantai 1 merupakan Ruang kategori sejarah alam yang didalamnya didapati (Kosmologis, Goelogis, dan Geografika, serta Ekologi) Sedangkan gedung A Lantai 2 banyak dijumpai koleksi Palaentologi, Palaebotani, Paleozoologi, Palaeontropologika. Gedung B di lantai 1 menyimpan sejarah peradaban kebudayaan. Koleksi budaya Hindu, Budha, Islam. Sedangkan di gedung yang sama namun di lantai yang berbeda terdapat koleksi purbakala dan masih banyak lagi koleksi sejarah yang tersimpan rapi dalam Ruang sejarah perjuangan bangsa dan Etnografi, Ruang Era pembangunan maupun kesenian.

Banyak hal yang tersimpan rapai dalam museum ini. Diantaranya:

  1. Disambut dengan Ramah dan lebih dekat dengan seni budayaSaat hendak memasuki, Pengunjung akan disuguhi pemandangan yang penuh dengan budaya khususnya jawa. Hal ini sangat cocok dengan karakter orang jawa sopan dan ramah. (File lengkap download  di PDF)
  2. Foto dan DokumentasiSebelum masuk kedalam museum, pengunjung akan dipertontonkan beragai macam poret kebudayaan yang terbingkai rapi dalam fotografi. (File lengkap download  di PDF)
  3. Wadah Kreasi bagi anak mudaMuseum ini juga memberikan wadah kepada generasi muda untuk berkarya bukan hanya lewat Foto, namun juga Film. Karena Film merupakan Media yang paling Lengkap untuk menyampaikan sebuah pesan dan gagasan. (File lengkap download  di PDF)
  4. Menyimpan bukti-bukti kekayaan bahariIndonesia menyimpan banyak kekayaan alam terutama hasil laut. Perahu dan kapal merupakan alat yang dimanfaatkan untuk mencari ikan di laut, dan sebagai alat transportasi. Pada zaman dahulu, hasil laut sangat melimpah. Sebelum banyak orang yang mengesploitasi hasil bumi secara besar besaran dengan cara sadis seperti Pengeboman. Selain itu, kapal yang dijadikan sebagai transportasi saat itu menyimpan banyak berpengaruh terhadap pertukaran budaya, bahasa, kesenian dari negara-negara arab, melayu, kepada`Indonesia.
  5. Menyimpan bukti-bukti sejarah keberagaman indonesia                                          Banyak Keyakinan yang ada di Indonesia. Banyak pula hasil kebuyaan dan kekhasan dari keyakinan masing-masing. Namun hal tersebut semakin mempererat dan mempersatukan bangsa.
  6. Purbakala

    Bicara tentang sejarah, Bicara pula tentang masa purbakala. Di museum ini, banyak ditemukan benda purbakala, hasil bumi seperti batu giog, apung dsb.

  7. Kerajinan                                                                                                                     kerajinan diperlihatkan sangat beragam. Seperti Kerajinan dari besi, kayu, bambu yang digunakan sebagai alat maupun hiasan.
  8. Sejarah Kemerdekaan

    Dalam bentuk Lukisan, Diorama dan Patung benda benda sejarah yang digunakan untuk perang maupun kronologi peristiwa coba dihadirkan dalam bentuk Modern

  9. Menyimpan Kekayaan Budaya Lokal

    Banyak kebudayaan Khas daerah seperti Daerah Kudus, Demak, Semarang dll. yang dipertontonkan. Jenisnya pun beragam. Mulai dari alat musik, busana, arsitektur, karya sastra dsb.

    Masih banyak tentunya koleksi cantik dan bernilai seni tinggi yang patut untuk dibahas lebih jauh. Namun yang paling sering dijumpai adalah peninggalan yang bernafaskan islam dan jawa. Mulai dari Bangunan arsitektur Masjid seperti Bangunan Majid agung Demak dan Masjid Kudus yang dari segi bangunan nya tentu dipengaruhi oleh budaya dan kisah yang berbeda. Tak hanya itu, banyak pula dipertontonkan wayang dengan berbagai macam bentuk, kisah dan cara pembuatan yang dipengaruhi budaya terutama arab, jawa dan melayu. Dunia kesusastraan juga tersentuh islam. Seperti huruf arab pegon dan lain lain.

    Namun, Sayangnya, Di Zaman yang modern ini, banyak generasi muda yang acuh tak acuh dengan budaya mereka sendiri. Banyak Penyebab yang membuat hal ini terjadi. Namun solusinya, kembali kepada pemuda dan sikapnya. Sadar akan budaya berarti ikut melestarikan, Menjaga dan mengembangkan.

    Karena jika hal tersebut tidak dilakukan keunikan dan keragaman budaya akan musnah. Meski budaya baru telah bermunculan dengan berbagai keistimewaan masing-masing namun tahu dan sadar akan identitas sebagai warga yang berbudaya terutama budaya jawa dan beragama islam pasti akan membawa kita menuju sikap yang lebih peduli terhadap budaya.

    Jadi Kesimpulanya, Museum Ronggowarsito menyimpan banyak koleksi sejarah yang tentu dapat memberikan informasi dan wawasan baru kepada generasi muda. Manusia harus belajar dari peristiwa masa lalu dan peristiwa orang lain. Karena Manusia tidak cukup memiliki banyak usia dan waktu untuk membuat kesalahan dan belajar darinya.

    Museum Ronggowarsito juga menyimpan miniatur benda-benda sejarah yang mengedukasi yang berhubungan dengan dunia keislaman. Hal ini haruslah mempertebal keimanan dan Ketaqwaan kepada Allah SAW.

     

     

 

 

Nama: Yatimul Chotimah

TTL: Demak, 27 April 1995

Prodi: PBI UIN Walisongo Semarang

NIM : 133411029

Makul: Islam dan Budaya Jawa

0

LYRIC SPONGEBOB SQUAREPANTS

SPONGEBOB SQUAREPANTS

Spongebob Squarepants Theme Song Lyrics

Are you ready kids?
Aye, aye, captain!
I can’t hear you!
Aye, aye, captain!
Ooooooooooh

Who lives in a pineapple under the sea?
SpongeBob SquarePants!
Absorbent and yellow and porous is he!
SpongeBob SquarePants!
If nautical nonsense be something you wish!
SpongeBob SquarePants!
Then drop on the deck and flop like a fish!
SpongeBob SquarePants!
Ready?

SpongeBob SquarePants, SpongeBob SquarePants,
SpongeBob SquarePants
SpongeBob SquarePants!

SpongeBob SquarePants!

HA HA HA HA HA HA HA HA

0

Kenapa Film Indonesia Harus Ada?

KENAPA FILM INDONESIA HARUS ADA?

Karena takdir Tuhan? Ya, salah satu jawabannya itu. Tapi film Indonesia harus ada, karena merupakan bentuk retropeksi terhadap kebudayaan, struktur sosial dan pola kehidupan di negara Indonesia ini. Film Indonesia merekam proses kehidupan di Indonesia sendiri sejak era film jaman dulu sampai sekarang. Tanpa sadar saat kita menonton film Indonesia maka kita akan terbawa ke dunia baru di film itu sendiri, kita akan terbawa ke situasi dimana film itu dibuat. Dengan menonton film Indonesia kita ikut mempelajari dongeng Indonesia, kebudayaannya, realitas sosialnya dan pikiran fiksi para filmmaker Indonesia yang tersalurkan ke penonton.

Saat saya melihat film Indonesia, saya melihat perspektif sudut pandang yang terlewatkan dari masa ke masa. Dari era jadul saat film pertama dari pedagang cina dibuat “Film Loetoeng kasaroeng tahun 1926” bermula sampai proses ke film Indonesia pertama kali (benar-benar film Indonesia pertama, sutradaranya orang Indonesia, krunya orang Indonesia) Film legendaris “Darah dan Doa karya Usmar Ismail”. Setiap era film mewakili suatu kuantum kehidupan Indonesia tertentu. Dari tahun 1920an – 2013, waw banyak sekali kenangan manis-pahit, senang-sedih, haru-menggembiraka dari proses perkembangan film Indonesia baik dalam segi penceritaan, produksi, hingga perkembangan para pionir pencetus film itu sendiri.

Untuk menulis tulisan ini. Saya pun harus merasakan sendiri FILM INDONESIA ITU APA SEBENARNYA? Secara simpel film Indonesia itu bisa di artikan film yang dibuat oleh orang Indonesia, di produksi di negara Indonesia atau negara lain tapi masih ada kaitannya dengan Indonesia terikat kebudayaan, sosial, bahasa dengan Indonesia secara menyeluruh.

Film katanya adalah anugrah seni terakhir. Film adalah seni terlengkap. Film menggabungkan seni rupa, sastra, fotografi, teater, musik, tari, arsitektural dan berbagai seni lainnya. Tanpa film Indonesia akan menjadi negara yang seninya mati. Pernah terlontar dalam benak saya, mungkinkah menonton film bisa merubah negara Indonesia tercinta ini? Padahal masih ada permasalahan lain seperti, korupsi, kemiskinan, kemacetan, kebanjiran dan berbagai krisis lainnya. Apakah menonton film 2-3 jam di bioskop bisa merubah Indonesia? BISA. Hiburan bisa merubah pola pikir manusia. Negara Indonesia sudah semrawut, film adalah salah satu hiburan yang bisa membunuh rasa kesal kita terhadap korupsi, kemiskinan, kemacetan, kebanjiran dan berbagai krisis lainnya. 2-3 jam itu bisa merubah cara kita memandang dunia, percayalah.

Tapi, saya prihatin melihat penonton film Indonesia sekarang adalah orang kalangan menengah, hingga kalangan menengah ke atas. Tidak pernahkan anda melihat kalangan menengah ke bawah ke bioskop, seperti pengemis, pemulung, pengamen naik sedikit ke kalangan sopir bajaj, tukang ojek, penjual pinggir jalan, dll. Apakah bioskop hanya untuk orang kaya? Tidak. Film Indonesia harus ada, 2-3 jam itu juga harus tercipta untuk hiburan masyarakat kelas bawah. Sudah ada pergerakan luar biasa seperti bioskop rakyat, sinema ngamen, sinema rakyat, sinema gerilya dan berbagai pergerakan sinema lainnya yang membuat masyarakat kecil bisa menonton. Tapi itu belum cukup? Film Indonesia harus ada untuk seluruh masyarakat Indonesianya. Penduduk Indonesia sekarang jumlahnya 250 juta jiwa lebih, tapi penonton terbanyaknya hanya 4,6 juta(Film Laskar Pelangi). Kemana sisanya? Belum mencintai film Indonesia? Apa solusinya? Kembali lagi ke pertanyaan kenapa film Indonesia harus ada? Karena…. Mungkin saat ini anda sendiri yang harus menjawabnya.

0

Film Dokumenter, Pengertian dan Jenisnya

Pengertian film dokumenter adalah film yang mendokumentasikan cerita dari sebuah kisah nyata. Kata dokumenter sendiri pertama kali digunakan pada tahun 1926 di sebuah resensi film yang berjudul Moana. Sedangkan di negara Perancis istilah dokumenter dipakai untuk menyebut semua film yang bersifat non fiksi, termasuk film mengenai perjalanan dan film mengenai pendidikan.

Film dokumenter sering kali hanya diputar di beberapa bioskop atau negara saja, hal ini terjadi biasanya karena film tersebut tidak lolos dalam  Lembaga Sensor Film. Namun kita tidak usah khawatir karena dengan adanya internet segala sesuatunya mudah sekali cari termasuk sebuah video film. Apabila sudah menemukan film dokumenter yang and inginkan, tentunya akan lebih nyaman jika kita mendownload terlebih dahulu film tersebut. Untuk yang belum mempunyai software untuk mendownload video di internet, anda bisa mencoba untuk memakai software download cepat dan gratis.

Film Dokumenter

Film dokumenter berbeda dengan jenis film lainnya seperti film thriller ataupun film komedi Indonesia karena merupakan sebuah rekaman kejadian yang diambil langsung saat kejadian sedang berlangsung dan tentunya bersifat nyata. John Grierson merupakan orang pertama kali yang menemukan istilah dokumenter di suatu pembahasan resensi film yang berjudul Moana pada tahun 1926. Beliau pun berkata bahwa sinema bukanlah sebuah seni rupa ataupun hiburan melainkan suatu bentuk publikasi yang dapat dipublikasikan dengan 100 cara yang berbeda untuk 100 penonton yang berbeda. Oleh karena itu John Grierson menyimpulkan bahwa film dokumenter adalah sebuah metode publikasi yang disajikan secara sinematik.

Dalam film dokumenter sendiri mengkombinasikan 2 aspek yang ada di kehidupan nyata setiap manusia yaitu aspek sains dan seni. Aspek sains dan seni yang ada di film dokumenter merupakan suatu penjabaran fakta yang disusun sedemikian rupa sehingga bernilai artistik dan tentunya dapat membuat penonton memahami apa yang sebenarnya terjadi di luar sana sehingga dapat memperbaiki kualitas hidupnya.

Film dokumenter pun saat ini digunakan sebagai alat kritik sosial terhadap apa yang terjadi di bangsa dan negara ini seperti korupsi, anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan secara layak, kesenjangan sosial yang terjadi di masyarakat, ataupun terhadap cara kerja lembaga-lembaga yang ada di negara seperti DPR, MPR,Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Mahkamah Agung RI, dll.

Namun selain mempublikasikan hal-hal yang erat sekali dengan masyarakat, film dokumenter pun banyak digunakan artis-artis dunia untuk mempublikasikan perjalanan hidup serta karya-karya yang selama ini telah dibuat, seperti Justin Bieber dengan film dokumenternya yang berjudul “Never Say Never” atau Michael Jackson lewat sebuah film yang dibuat setelah ia meninggal dan menceritakan bagaimana persiapan konser musik terakhirnya yang diberi judul “This Is It” dan rilis pada tahun 2009.

Jenis Film Dokumenter

Film dokumenter sendiri mempunyai banyak jenis dan macamnya, berikut beberapa jenis dan macam film dokumenter :

  • Biografi seseorang baik itu politikus, artis, pengusaha, Presiden atau Mantan Presiden, dll. Contohnya saja biografi Soekarno yang perjalanan hidupnya dan perjuangannya dalam membebaskan Bangsa Indonesia dari penjajahan beberapa bulan lalu telah dijadikan sebuah film dokumenter dengan judul yang sama yaitu “Soekarno”.
  • Laporan perjalanan atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Traveling. Contohnya membuat film dokumenter tentang apa saja keunikan serta budaya yang ada di balik keindahan tempat wisata di Korea Selatan.
0

Proses Produksi Film

Acting :
Adegan/lakon yang diperankan oleh pemeran (aktor/aktris/talent) mengikuti skenario yang telah ditetapkan. Akting meliputi bahasa tubuh, ekspresi wajah dan dialog.

Agent (Agent Model) :
Seseorang yang bekerja mewakili kepentingan aktor/aktris dalam berhubungan dengan produser serta orang-orang lain dalam dunia produksi film. Agent ini amat berperan dalam mencarikan job serta membangun karir para artis.

Art Director (Penata Artistik) :
Pengarah artistik dari sebuah produksi, bertanggung jawab dalam penyediaan set lokasi shooting serta properti penunjang, sesuai tuntutan cerita dalam skenario.

Audio Mixing :
Proses pengaturan suara dari berbagai macam jenis input, menghasilkan unsur sound yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan cerita.

Angle :
Sudut pengambilan gambar, amat berpengaruh dalam penciptaan komunikasi yang diharapkan dari sebuah gambar sebagai bahasa visual. Low Angle yaitu pengambilan gambar dari bawah obyek, lazim digunakan untuk menampilkan keagungan/kewibawaan obyek. High angle ialah pengambilan gambar dari ketinggian, lazim digunakan untuk menampilkan ketidakberdayaan obyek. Close-up (CU) ialah pengambilan jarak dekat dimana obyek tampak dengan jelas (pada manusia, sebatas wajah hingga leher atau dada); Extreme Close Up (ECU) ialah pengambilan yang lebih dekat lagi sehingga layar dipenuhi oleh bagian dari wajah; Medium Shot (MS) ialah pengambilan dari jarak sedang, dimana manusia akan tampil keseluruhan bagian tubuhnya; Long Shot (LS) ialah pengambilan gambar dari jarak jauh dimana obyek akan terlihat bersama dengan lingkungan terdekatnya.

Angle juga berkaitan dengan pergerakan kamera berikut ini : Pan ialah pergerakan kamera secara horisontal ke kiri atau ke kanan; Tilt ialah pergerakan kamera secara vertikal ke atas atau ke bawah; Track/Dolly ialah pergerakan kamera yang sejajar mengikuti pergerakan obyek yang bergerak; Zoom In ialah perbesaran gambar (fungsi pada kamera video), Zoom Out ialah perkecilan gambar (fungsi pada kamera video).

Animator :
Pembuat animasi. Klip animasi biasanya dikerjakan secara khusus oleh seorang animator, lalu diserahkan kepada editor video untuk digabung dengan bagian gambar lainnya.

Audio Effect :
Efek suara. Sejumlah adegan memerlukan efek suara agar meningkatkan kesan visual. Misalnya pada adegan baku hantam dimana tidak terjadi perkelahian sesungguhnya, efek suara dibuat dan ditambahkan pada proses editing video untuk memperkuat kesan telah terjadinya perkelahian sesungguhnya.

Ambience :
Suara natural dari obyek gambar.

Background :
Gambar latar belakang.

Boom :
Mikrofon besar yang dipasang pada tiang portabel yang dipasang pada tempat terdekat yang mungkin, di sekitar pelaku adegan, agar dapat secara optimal menangkap dialog pemeran. Orang yang mengoperasikan boom ini disebut dengan Boom Man.

Breakaway :
Properti sekali pakai, misalnya gelas atau kertas, yang akan menjadi rusak dalam sekali pakai sesuai tuntutan cerita.

Breakdown :
Arti aslinya ialah perincian. Dapat merujuk ke rincian bujet produksi maupun aktualisasi pengeluaran biaya, atau dapat pula berarti rincian perencanaan adegan shooting.

Budget :
Anggaran pengeluaran keseluruhan dari produksi film. Bujet yang biasanya ditentukan sejak awal oleh produser ini akan amat menentukan bagaimana suatu rencana produksi video akan dieksekusi, menyangkut sewa alat, sumberdaya manusia, properti, dan sebagainya.

Blocking :
Area yang masuk dalam cakupan tangkapan kamera video. Para pemeran serta properti harus masuk dalam area blocking ini, dan sebaliknya area ini harus steril dari properti atau kru produksi.

Back Light :
Sumber cahaya utama yang berada di belakang obyek shooting dan menghadap ke kamera. Pada kebanyakan kasus, backlight ini merupakan kesalahan mendasar yang sering dilakukan oleh kameramen amatir sehingga obyek menjadi tak jelas (gelap). Pada kasus khusus, teknik ini digunakan misalnya untuk dengan sengaja menyamarkan identitas obyek.

Bumper :
Klip gambar biasanya berupa animasi yang berperan sebagai pembuka suatu acara televisi. Bumper in digunakan sebagai tanda suatu acara akan dimulai lagi setelah jeda iklan, sedangkan bumper out ialah penanda bahwa acara akan berhenti sejenak untuk jeda iklan.

Camera Department :
Bagian yang bertanggung jawab untuk menyediakan dan merawat semua peralatan kamera yang dibutuhkan untuk memproduksi film, serta proses-proses yang menyertainya.

Cameraman :
Orang yang bertugas mengoperasikan kamera film/video. Pada suatu produksi besar, cameraman ini terbagi menjadi sejumlah peran khusus yaitu Penata Fotografi (yang bertugas mengatur penempatan dan pergerakan kamera serta pencahayaan), Operator kamera yang langsung mengoperasikan kamera, serta sejumlah asisten untuk mengurus hal-hal lain seperti mengatur fokus kamera, dan sebagainya.

Camera Tracks :
Lintasan kamera, suatu alas datar berupa metal atau lembaran kayu tipis yang diletakkan di permukaan lantai sebagai tempat pergerakan kamera (yang dipasang pada sebuah alat beroda tertentu, disebut dolly). Lintasan ini berguna agar dihasilkan gerakan kamera yang lembut. Camera track dapat pula berbentuk lintasan rel panjang, sementara kamera terpasang pada suatu kamera dolly.

Casting :
Proses pencarian orang yang tepat untuk memerankan tokoh tertentu dalam cerita. Casting ini dipimpin oleh seorang juru casting atau casting director yang amat memahami karakter yang dibutuhkan oleh cerita. Rencana casting ini telah diumumkan sebelumnya kepada publik atau agent sehingga para artis/aktor dapat mempelajari skenario lalu mempersiapkan adegan yang akan ditampilkan sebagai unjuk kebolehan.

Clapper Boards :
Sepasang papan berengsel yang diketukkan sebagai tanda dimulainya shooting. Papan ini berisi sejumlah informasi antara lain titel produksi, nomor adegan (scene), produser, dan tanggal shooting adegan. Informasi pada papan ini dicatat oleh pencatat adegan yang kemudian akan memberi catatan tambahan tentang keberhasilan adegan yang di-shooting. Informasi ini juga terrekam oleh kamera video, yang kelak akan memudahkan proses editing video untuk memilih potongan gambar mana yang akan dipakai dan dirangkai dengan gambar lainnya.

Commercial :
Iklan. Video singkat yang umumnya berdurasi 60, 30, atau 15 detik yang dibuat khusus untuk mempromosikan suatu produk.

Costume Designer :
Orang yang merancang pakaian/kostum yang akan dipakai oleh para pemeran film.

Cue :
Tanda bagi aktor/aktris dalam film untuk memunculkan bagiannya dalam dialog atau tindakan. Isyarat ini dapat berupa tindakan aktor/aktris lainnya, bagian akhir dari sebuah dialog, tanda dari sutradara atau isyarat cahaya.

Cue Light :
Bola lampu kecil yang dapat dinyalakan atau dimatikan oleh sutradara atau asisten sutradara untuk memberi isyarat kepada para pemeran. Lampu ini diletakkan diluar jangkauan pandang kamera tetapi dalam jangkauan pandang pemeran.

Cut and Hold :
Perintah dari sutadara agar adegan diberhentikan namun para pemeran tetap berada dalam posisinya. Pada kasus ini, sutradara mungkin ingin memeriksa pencahayaan, posisi, atau adegan lain yang berkaitan.

Cut to Cut :
Peralihan gambar dari adegan satu ke adegan lainnya secara langsung tanpa pemakaian transisi.

Credit Title :
Penampilan nama-nama kru produksi serta para pendukung acara.

Chroma Key :
Sebuah teknik efek visual dimana adegan shooting dilakukan dengan latar belakang layar berwarna tertentu (biasanya hijau atau biru). Pada proses editing, warna layar yang digunakan ini menjadi key untuk dihilangkan (dijadikan transparan) untuk diisi dengan gambar background yang telah disiapkan untuk tujuan itu.

Cutting on Beat :
Teknik pemotongan dan penyusunan gambar pada saat editing video berdasarkan tempo sound yang digunakan. Teknik ini amat terasa efeknya misalnya pada videoklip musik yang bertempo cepat.

Clip Hanger :
Sebutan bagi adegan atau gambar yang akan mengundang rasa ingin tahu penonton tentang kelanjutan acara, namun harus ditunda karena harus tampilnya jeda iklan komersial.

Cut :
Pemotongan gambar

Crane :
Alat khusus yang dilengkapi dengan tiang, tuas dan katrol untuk tempat menggantung kamera sehingga kamera dapat digerakkan secara fleksibel dinamis termasuk perputaran penuh 360 derajat, menghasilkan angle yang unik, dinamis dan kadang dramatis. Alat ini dapat digerakkan oleh secara manual oleh operator melalui sebuah tuas, ada pula yang dilengkapi dengan remote control. Jimmy Jib ialah sebuah merk dagang yang terkenal alat crane semacam ini.

Clip On :
Mikrofon khusus berukuran kecil yang dapat diselipkan pada obyek sehingga tidak terlihat oleh pemirsa.

Depth of Focus :
Area tempat berbagai benda yang diletakkan dengan berbagai ukuran jarak di depan lensa akan tetap memperoleh fokus yang tajam.

Director :
Orang yang mengontrol tindakan dan dialog di depan kamera dan bertanggung jawab untuk merealisasikan apa yang dimaksud oleh naskah dan produser.

Documentary :
Film yang menyajikan cerita nyata, dilakukan pada lokasi yang sesungguhnya. Juga sebuah gaya dalam memfilmkan dengan efek realitas yang diciptakan dengan cara penggunaan kamera, sound, dan lokasi.

Dolly :
Kendaraan/alat beroda untuk membawa kamera dan operator kamera selama pengambilan gambar. Dolly biasanya dapat didorong dan diarahkan oleh satu orang yang disebut Dolly Grip.

Dubbing :
Perekaman suara manusia secara sinkron dengan gambar film. Suaranya mungkin atau mungkin tidak berasal dari aktor/aktris yang sesungguhnya serta bisa juga bahasa yang digunakan ketika film tersebut dibuat. Aktor/aktris menggunakan gambar dan soundtrack playback sebagai panduan untuk mensinkronkan gerakan bibir dalam gambar dengan perekaman suara terbaru. Umumnya digunakan untuk memperbaiki perekaman asli yang buruk., performa artistik yang tidak dapat diterima atau kemungkinan kesalahan dalam dialognya. Juga digunakan untuk perekaman lagu dan versi bahasa lain setelah proses pemfilman.

Depth of Field :
Area dimana seluruh obyek yang duterima oleh lensa dan kamera muncul dengan fokus yang tepat. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh jarak antara obyek dan kamera, focal length dari lensa dan f-stop

Editing Departement :
Divisi dimana semua potongan film yang telah dihasilkan digabungkan sehingga membentuk urutan yang koheren, dengan bantuan kru lain termasuk sutradara atau produser.

Electric Departement :
Bertanggung jawab terhadap penjagaan dan penyediaan segala peralatan listrik selama proses produksi film, misalnya: lampu, kabel, mesin diesel. Electrician ialah anggota staf departemen ini.

Ext. :
Eksterior. Bagian manapun dari film yang direkam di luar ruangan; jalanan kota, stadium, gurun, hutan, atau puncak gunung, beberapa lokasi dapat dibuat ulang di sounstage studio namun tetap dinamakan eksterior dalam naskah.

Extreme Close Up :
Pengambilan gambar dari jarak amat dekat

Fade Out, Fade In :
Jenis transisi dari gambar kosong (blank) ke kemunculan gambar tertentu (fade in) atau dari gambar tertentu ke blank (fade out). Sering digunakan untuk menekankan berlalunya waktu atau akhir dari adegan atau cerita.

Fast Motion :
Melakukan pemfilman dengan kecepatan dibawah standar kemudian memproyeksikan dengan kecepatan standar untuk membuat tindakan terlihat lebih cepat dari normal. Efek ini sering digunakan untuk mempercepat tempo, menyesuaikan diri dengan sound yang dipakai.

Fifty-fifty :
Sudut pengambilan gambar ketika dua orang pemeran saling berhadapan sehingga berbagi lensa dengan adil. Juga disebut sebagai a two shot atau a two.

Fill Light :
Merupakan bagian dari teknis pencahayaan dasar “Three Point Lighting”, digunakan untuk meniadakan bayangan yang timbul akibat adanya key light.

First Run :
Pertama kali sebuah film dilepas ke bioskop untuk ditonton. Saat ini lebih dikenal dengan Gala Premiere.

Flare :
Efek visual yang timbul ketika suatu obyek memantulkan cahaya yang tidak diinginkan secara langsung kepada lensa kamera. Meski seringkali efek ini tidak diinginkan, namun pada sejumlah software editing video justru terdapat fitur untuk memunculkan simulasi flare ini untuk meningkatkan realitas visual.

Flashback :
Secara harfiah berarti kilas balik. Yaitu alur cerita yang mundur ke belakang mengisahkan kejadian lampau yang dapat menjelaskan latar belakang penyebab kondisi yang ada sekarang.

Focus :
Gambar secara detail dan tajam, dengan warna yang mendekati aslinya, yang diperoleh dengan setting lensa kamera agar memiliki nilai jarak fokus yang benar. Pada sejumlah kamera handycam, fokus ini bersifat otomatis hasil deteksi kamera. Sedangkan pada kamera yang memiliki setting manual fokus, gambar yang fokus diperoleh jika kameramen pandai mengatur setting fokus ini yang juga memerlukan kejelian mata. Atau kadang digunakan pengukuran jarak agar dapat melakukan setting fokus secara lebih akurat.

Fog Maker :
Menggunakan cairan khusus sehingga fog maker dapat memunculkan efek kabut, asap, efek kabur (blur), dan kelembaban. Dengan menggunakan cairan jenis lain maka dapat digunakan untuk menghilangkan kabur yang tidak diinginkan. Alat ini dapat berukuran kecil, mesin yang dapat digenggam atau mesin besar yang diletakkan di kereta.

Follow Focus :
Perubahan fokus kamera selama adegan untuk mempertahankan fokus pada pemeran yang bergerak mendekati atau menjahui kamera.

Follow Shots :
Pengambilan gambar dengan kamera bergerak memutar untuk mengikuti pergerakan pemeran dalam adegan.

Footage :
Gambar-gambar yang telah tersedia dan dapat digunakan.

Frame per Second (fps) :
Jumlah frekuensi penampilan frame gambar tiap detiknya. Video sebagai “gambar bergerak” sebenarnya hanya merupakan kesan/ilusi penglihatan mata, sebab pada kenyataannya video tersebut terdiri dari serangkaian gambar diam yang ditampilkan berurutan dalam durasi waktu yang sangat singkat. Pada video format PAL, satu detik video terdiri dari 25 gambar, disebut sebagai 25 fps (frame per second), sedangkan format NTSC memiliki 30 gambar, disebut sebagai 30 fps.

Freelancer :
Orang yang tidak terikat kontrak dengan produser atau perusahaan manapun.

Freeze :
Perintah bagi pemeran untuk menghentikan aksi namun mempertahankan posisinya. Dalam film yang aktor/aktris atau obyek lain muncul dengan tiba-tiba misalnya “pop in” pada layar maka aktor/aktris dalam adegan akan diminta untuk diam. Orang atau obyek kemudian ditempatkan di posisinya kemudian perintah untuk “action” diberikan dan adegan dilanjutkan. Dalam pemotongan film di bagian tengah dari masuknya aktor/aktris atau penempatan obyek akan dihilangkan.

Gobo :
Layar kayu yang dicat hitam. Digunakan untuk menghalangi cahaya dari sati atau lebih pencahayaan lampu studio, suatu set peralatan yang digunakan untuk mecegah jatuhnya cahaya yang tidak diinginkan ke lensa kamera atau area set. Biasanya diletakkan pada sanggahan yang dapat disesuaikan. Gobo tersedia dalam berbagai bentuk dan ukuran.

Hairdresser :
Spesialis penata rambut untuk film. Seorang hairdresser mungkin bekerja dengan penata rambut laki-laki maupun perempuan.

Hand Held :
Mengambil gambar dengan kamera ringan seperti handycam, jenis yang dapat ditahan oleh operator kamera dengan tangannya selagi mengambil gambar, berlawanan dengan meletakkannya pada gear head atau tripod. Memberikan fleksibilitas yang lebih. Teknik penggunaan kamera dengan tangan tanpa tripod

Hot Set :
Suatu set yang telah diisi barang dan dekor untuk syuting. Penggambaran ini biasanya mengindikasikan bahwa set tersebut tidak boleh dimasuki atau digunakan.

Hot Spot :
Area dalam set yang memiliki pencahayaan yang sangat terang.

Hunting Location :
Proses pencarian dan penggunaan lokasi yang tepat dan terbaik untuk syuting.

Idiot Cards :
Kartu besar tempat dialog dituliskan untuk aktor yang tidak dapat mengingat kalimatnya. Dapat juga berarti sebuah bagian mesin elektronik yang mahal disebut Tele-Prompter, dimana sebuah gulungan kertas ditempatkan di depan atau dekat dengan kamera dan dituliskan dialognya dengan huruf yang besar sehingga mudah untuk dibaca. Bisa juga disebut dengan Cue cards.

Independent :
Seseorang yang membuat film tanpa dipekerjakan oleh sebuah studio besar.

Insert Shot :
Suatu obyek biasanya yang dicetak seperti surat kabar atau sebuah jam, dan dimasukkan ke dalam rangkaian untuk menjelaskan tindakan.

Int. :
Interior. Bagian dari film yang diambil didalam ruangan. Interior dapat berupa set yang dibentuk di studio atau diluar studio. Lebih dikenal sekarang ini sebagai location interiors.

Iris :
bagian yang terbuka dari sebuah lensa atau bagian belakang yang mengatur masuknya cahaya kdalam film. ukuran Iris dapat dikontrol oleh operator kamera.

Jell :
Gelatin atau materi plastik berwarna yang digunakan di depan sebuah lampu untuk mengubah warna cahaya dari lampu tersebut. Bisa juga disebut dengan Gel.

Jumping Shot :
Proses pengambilan gambar secara tidak berurutan

Jimmy Jib :
Merek dagang, lihat Crane.

Key Light :
Cahaya utama yang digunakan untuk menerangi obyek shooting.

Light Meter :
Instrumen kecil dan dapat dipegang dengan tangan yang digunakan untuk mengukur intensitas cahaya.

Lining Up :
Membatasi adegan. Operator kamera atau sutradara mengatur penempatan kamera sehingga mencakup ruang pengelihatan yang diinginkan. Dapat juga berarti framing.

Limbo :
Melakukan pengambilan gambar pada area atau set yang tidak dapat dijelaskan sebagai suatu lokasi khusus. Dapat digunakan untuk adegan close-up, insert, dan lain sebagainya.

Lip-Sync :
Sesi perekaman saat seorang aktor/aktris menyesuaikan suaranya dengan gerakan bibir dari gambar.

Long Shot :
Gambar direkam dari jarak jauh. Biasanya digunakan dengan cara pengambilan gambar dari sudut panjang dan lebar.

Make-Up Departement :
bagian yang bertanggung jawab terhadap penampilan aktor/aktris agar sesuai dengan kebutuhan skenario pada saat syuting.

Match :
Menghasilkan ulang suatu tindakan yang dilakukan dalam adegan lain sehingga keduanya dapat dipotong sehingga menghasilkan posisi yg dapat disesuaikan.

Matching Directions :
Penyesuaian adegan dalam film seperi masuk dari kiri ke kanan sehingga orang atau alat transportasi dalam film tidak memiliki arah yang terbalik ketika pengambilan gambar lain dimasukkan.

Measuring Tape :
Alat ukur yang digunakan untuk mengukur jarak dari lensa ke subyek dengan tujuan untuk menentukan fokus secara tepat.

Microphone Shadow :
Munculnya bayangan dari mikrofon pada bagian set yang masuk pada area pandang kamera. Bila muncul pada gambar maka it’s a no-no (gambar tidak terpakai)

Mock-Up :
Tiruan suatu benda yang dibuat seperti asli tapi hanya berupa bagian tertentu saja menurut kebutuhan.

M.O.S. :
Porsi gambar dari sebuah adegan yang diambil tanpa merekam suaranya. Inisial ini awalnya muncul dari sutradara Eropa yang tidak dapat mengucapkan WS dan mengatakan Mit Out Sound.

Moving Shot :
Teknik pengambilan gambar dari obyek yang bergerak.

Music Departement :
Bertanggungjawab dalam pengaturan atau menyediakan musik yang akan digunakan dalam film.

Master Control :
Perangkat teknis utama penyiaran untuk mengontrol proses distribusi audio dan video dari berbagai input pada suatu produksi acara.

Medium Shot :
Gambar diambil dari jarak sedang.

N.G. :
No Good (tidak bagus). Istilah ini dipakai sebagai catatan atau komentar terhadap pengambilan gambar yang tidak bagus pada laporan kamera dan suara, misalnya N.G. Sound, N.G. Action

NTSC (National Television Standards Committee)
Sistem reproduksi sinyal televisi yang lazim digunakan di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Sistem NTSC terdiri dari 525 garis scanning dengan frekuensi penciptaan gambar 30 fps (frame per secod).

O.S. :
Off Screen (tidak tampak pada layar)

Opening Scene :
Adegan yang dirancang khusus untuk membuka acara atau cerita. Adegan ini harus dikemas secara kreatif untuk mengundang kepenasaran penonton agar melihat keseluruhan tayangan.

PAL (Phase Alternation by Line) :
Sistem reproduksi sinyal televisi yang lazim digunakan di Eropa dan negara-negara lain termasuk Indonesia. Sistem PAL terdiri dari 625 garis scanning dengan frekuensi penciptaan gambar 25 fps (frame per secod).

Plot :
Alur cerita dalam sebuah naskah skenario.

P.O.V. :
Point of View, yaitu sudut pandang penceritaan. Istilah yang kerap digunakan dalam skenario.

Producer :
Sebutan bagi orang yang memproduksi film meski tak harus berarti membiayai produksi atau menanamkan investasi dalam produksi tersebut. Tugas produser adalah memimpin seluruh tim produksi agar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan bersama, baik dalam aspek kreatif maupun manajemen produksi dengan anggaran yang telah disepakati.

Production Unit :
Unit produksi yang terdiri dari sutradara, kru kamera, kru tata suara, bagian listrik dan semua orang yang terlibat dalam suatu produksi.

Panning :
Pergerakan kamera secara horisontal (ke kiri atau ke kanan) untuk memperluas liputan obyek.

Rain Cluster :
Perangkat khusus yang digunakan untuk menciptakan simulasi efek hujan. Sebagai alternatif ialah pemakaian mobil pemadam kebakaran.

Reflector :
Alat yang berfungsi untuk memantulkan cahaya, yang selain berfungsi untuk mengoptimalkan cahaya yang ada (baik sinar matahari pada shooting outdoor atau cahaya lampu pada shooting indoor), juga untuk memendarkan cahaya agar lebih soft. Bisa terbuat dari bahan apa saja asal memiliki pantulan cahaya yang optimal (jadi harus berwarna putih/terang), misalnya berupa lembaran alumunium foil yang ditempelkan pada lembaran busa/stereoform yang tebal.

Remake :
Produksi suatu film yang sebelumnya pernah diproduksi. Film remaking dibuat dengan penyesuaian konteks cerita terhadap keadaan jaman terkini dimana peradaban dunia sedang berubah dengan amat cepatnya. Misalnya, kisah cinta klasik Romeo dan Juliet akan difilmkan dengan konteks keadaan terkini dimana komunikasi bisa dilakukan dengan berbagai cara yang tidak terdapat pada jaman dulu.

Re-Run :
Memutar ulang suatu film atau program acara televisi.

Resolution :
Kemampuan lensa atau film untuk menangkap serta menunjukkan detail obyek.

Re-Take :
Pengulangan adegan dalam shooting, bisa disebabkan oleh kegagalan akting, dialog, pencahayaan, ketidaksiapan kru, dsb.

Reverse Angle :
Sudut pengambilan gambar : arah angle yang sebaliknya dari angle gambar yang telah diambil.

Roll :
Perintah yang biasanya diberikan ketika kru produksi telah siap di posnya masing-masing sehingga adegan tertentu siap dilaksanakan.

Running Shot :
Pergerakan kamera secara dinamis untuk menyesuaikan diri dengan gerakan pemeran di lokasi shooting.

Rundown :
Alur cerita dari program acara yang dibatasi oleh durasi, segmentasi, dan bahasa naskah.

Scouting :
Mencari lokasi untuk produksi. Dapat juga berarti mencari calon pemeran yang berbakat (talent scouting).

Screen Play :
Naskah yang sudah lengkap dan siap menjadi panduan dilaksanakannya produksi film.

Screen Test :
Kesempatan ujicoba bagi pemeran untuk memperlihatkan kemampuannya, sudah lengkap dengan penggunaan kostum, make up dan set properti.

Script Clerk :
Petugas yang bertanggungjawab mencatat sejumlah hal dari pengambilan gambar seperti durasi, akting, properti, pencahayaan dan keberhasilan adegan. Catatan ini kelak akan digunakan oleh editor saat editing video untuk menentukan mana potongan gambar yang akan diambil dan dirangkai dengan gambar lain, dan mana potongan gambar yang harus dibuang.

Sequence :
Rangkaian adegan.

Soft Focus :
Pengambilan gambar dengan lensa yang di-set agak out of focus sehingga subyek tampak agak blur.

Soft Light :
Pencahayaan lembut yang memungkinkan tiadanya bayangan dan berpendarnya cahaya secara merata dan menyeluruh.

Still man, Photographer :
Pengambil gambar foto yang bertanggungjawab atas publikasi dan pembuatan foto di lokasi. Foto ini dapat berfungsi sebagai dokumentasi behind the scene, dokumentasi proyek, maupun keperluan promosi.

Story Board :
Gambar ilustrasi adegan. Merupakan salahsatu bentuk upaya sutradara menerjemahkan bahasa tulisan skenario ke dalam bahasa gambar dan untuk memudahkan kegiatan shooting itu sendiri dengan dijelaskannya posisi, adegan, dialog, serta pekerjaan-pekerjaan lainnya. Gambar ilustrasi ini dirancang oleh sutradara bekerjasama dengan kru lain (misalnya penata fotografi), dan dilakukan oleh seorang juru gambar yang disebut storyboard artist. Sketsa yang menggambarkan adegan dalam film. Digunakan untuk mempemudah pengambilan gambar.

Sunshade (Lens Shade) :
Kotak persegi panjang yang dipasangkan di bagian depan lensa kamera untuk membatasi masuknya cahaya secara langsung ke dalam lensa.

Superimposure :
Penempatan sebuah layer video/grafis diatas layer lainnya, misalnya layer title atau subtitle (terjemahan bahasa) yang diletakkan di atas gambar film.

Swish Pan :
Jenis panning (pergerakan kamera horisontal ke kiri atau ke kanan) yang cepat yang memunculkan kesan gerakan mata yang menoleh ke samping dengan cepat.

Simply Shot :
Gambar yang diambil dari sudut mudah, biasanya untuk adegan pengisi yang kurang penting.

Script Format :
Format penulisan naskah skenario. Format ini bisa fleksibel tergantung tingkat kerumitan produksi video itu sendiri.

Script Marking :
Pemberian tanda pada naskah skenario untuk menjadi catatan bagi para kru produksi yang terlibat.

Stock Shot :
Persediaan gambar hasil shooting yang dapat dipilih pada saat proses editing.

Suspense :
Adegan drama yang menegangkan. Juga merupakan salahsatu genre (jenis) dari film.

Steady Shot :
Gambar sempurna dan tidak terlalu banyak bergerak dan dapat dinikmati dengan posisi diam.

Slow Motion :
Pergerakan gambar yang diperlambat, suatu proses yang dikerjakan saat editing video. Pada produk home video seperti wedding video, teknik ini kerap digunakan untuk pada gambar-gambar yang berisi momen bahagia dengan iringan lagu cinta yang bertempo lambat. Slow motion juga kerap digunakan secara “terpaksa” yaitu jika pada proses editing video ternyata ditemukan gambar yang rusak sedemikian rupa padahal informasi yang tertangkap oleh audio-nya penting, sehingga klip video dibuat slow motion untuk menyesuaikan diri dengan durasi audio-nya.

Tag Line :
Semboyan atau motto suatu film yang dapat merangsang imajinasi calon pemirsa tentang apa yang akan disuguhkan dalam film tersebut.

Teaser :
Cuplikan adegan-adegan menarik yang mewakili keseluruhan cerita, digunakan di televisi untuk menarik perhatian pemirsa.

Tilt :
Pergerakan kamera naik turun (vertikal)

Tone Track :
Sound asli yang diperoleh dari lokasi shooting tertentu yang seringkali tidak disadari namun dapat meningkatkan realitas hasil shooting. Misalnya pada wedding video, suara hiruk pikuk (crowded) merupakan suara yang khas terjadi pada acara resepsi, dan sebaiknya tidak dihilangkan seluruhnya pada proses editing video.

Top Lighting :
Teknik pencahayaan. Sumber cahaya berada di atas subyek sehingga turun menyinari. Sebagai kebalikannya ialah Down Lighting yang umumnya dipakai untuk kemunculan makhluk misteri dalam suatu adegan horror.

Treatment :
Rencana sutradara untuk menerjemahkan skenario dengan menyusun adegan, dialog dan prosedur kerja kru produksi di lokasi shooting.

Triangle :
Alat penahan kaki tripod agar tetap stabil meskipun diletakkan di permukaan yang licin.

Two/Three Shot :
Sudut pengambilan gambar. Yaitu layar kamera berisi dua/tiga obyek yang sedang berperan.

Viewfinder :
Instrumen optik yang yang memungkinkan operator kamera untuk mengikuti aksi para pemeran saat kamera sedang diaktifkan.

VTR :
Video Tape Recording. Alat pendukung produksi.

Very Long Shot (VLS) :
Jenis sudut pengambilan gambar. Gambar diambil dari jarak yang sangat jauh untuk maksud khusus, misalnya menjelaskan keterkaitan obyek shooting dengan lingkungannya.

Voice Over :
Suara tambahan atau alih suara yang dilakukan pada proses editing, untuk mendukung isi cerita.

Wardrobe Departement :
Bagian yang bertanggungjawab atas pemilihan pakaian yang akan dipergunakan untuk shooting.

White Balance :
Prosedur untuk men-setting lensa kamera agar dapat menangkap warna detil obyek secara akurat, biasanya dengan menghadapkan kamera ke suatu obyek berwarna putih selama beberapa saat.

Wind Machine :
Blower (kipas angin besar) yang digunakan untuk menciptakan efek angin.

Wrap :
Aba-aba untuk seluruh kru produksi bahwa sesi shooting telah selesai.11